Secara etimologis, nama Lamlumpu berasal dari bahasa Aceh. Kata \\\"Lam\\\" merujuk pada wilayah atau pemukiman (sering digunakan sebagai awalan nama desa di Aceh), sedangkan \\\"Lumpu\\\" merujuk pada jenis tanaman sejenis rumput atau rawa yang dulunya banyak tumbuh di kawasan tersebut sebelum dijadikan lahan pemukiman dan pertanian. Seperti desa-desa lain di pesisir Kecamatan Peukan Bada, sejarah kontemporer Lamlumpu tidak lepas dari peristiwa Tsunami 2004. Desa ini termasuk salah satu wilayah yang terdampak cukup parah karena lokasinya yang berada di dataran rendah dekat pesisir. Pasca-tsunami, melalui bantuan berbagai lembaga rehabilitasi dan rekonstruksi (seperti BRR), Gampong Lamlumpu dibangun kembali dengan tata ruang yang lebih teratur, termasuk pembangunan rumah bantuan dan fasilitas publik yang lebih memadai. Masyarakat Lamlumpu memiliki ikatan adat yang kuat dengan sistem kepemimpinan Keuchik dan Tuha Peut, serta menjunjung tinggi nilai-nilai syariat Islam yang menjadi landasan kehidupan sosial dan gotong royong warga setempat.